Toyotomi Hideyoshi (豊臣 秀吉?) (lahir
2 Februari 1536 – meninggal
18 September 1598 pada umur 62 tahun) adalah pemimpin
Jepang mulai dari
zaman Sengoku sampai
zaman Azuchi Momoyama.
Biografi singkat
Lahir sebagai anak
petani di desa Nakamura,
provinsi Owari (sebelah barat
Prefektur Aichi), sewaktu menjadi tangan kanan
daimyō Oda Nobunaga yang paling diandalkan. Setelah berhasil berdamai dengan
klan Mōri di daerah
Chūgoku, Hideyoshi menarik kembali pasukannya (peristiwa
Penarikan Pasukan dari Chūgoku) ke
Kyoto menemukan Oda Nobunaga sang majikan dibunuh oleh bawahannya
Akechi Mitsuhide dalam Insiden Honnōji
(本能寺の変, honnōji no hen?).
Hideyoshi mewariskan kekuasaan Oda Nobunaga setelah berhasil menghabisi
Akechi Mitsuhide dalam
Pertempuran Yamazaki. Hideyoshi membangun Istana Osaka, tapi mengingat latar belakangnya sebagai orang biasa, Kaisar belum bisa memberikan gelar
shogun, sehingga untuk sementara Hideyoshi diberi gelar
Kampaku. Pada waktu menerima jabatan
Dajō daijin (
1586), kaisar menghadiahkan nama keluarga
Toyotomi. Setelah berhasil menjadi pemimpin yang mempersatukan seluruh wilayah Jepang, Toyotomi Hideyoshi mengadakan survei wilayah yang disebut Taikōkenchi
(太閤検地?) dan melarang orang di luar kalangan
bushi untuk memiliki senjata
katana. Di tengah
invasi ke Korea yang disebut
Perang Tujuh Tahun (文禄・慶長の役, Bunroku-keichō no eki?), Toyotomi Hideyoshi tutup usia setelah mewariskan kekuasaan kepada putranya
Toyotomi Hideyori yang dititipkannya kepada
Tokugawa Ieyasu.
Perjalanan hidup Toyotomi Hideyoshi yang luar biasa dari anak petani sampai menjadi orang nomor satu di
zaman Sengoku sering dijadikan bahan cerita yang dikisahkan secara turun temurun dan sering dilebih-lebihkan. Toyotomi Hideyoshi konon pernah membangun
Istana Sunomata dalam waktu semalam, mempertaruhkan nyawa dalam
Pertempuran Kanegasaki agar posisi Oda Nobunaga yang sedang terjepit maut bisa lolos melarikan diri, dan pernah menyerang
Istana Takamatsu dengan banjiran air.
Perjalanan hidup
Masa kecil
Lahir di desa Nakamura sebagai anak tengah keluarga petani bernama Yaemon di
provinsi Owari,
Aichi-gun yang merupakan wilayah Nobunaga. Ada perbedaan pendapat soal tahun kelahiran Hideyoshi. Ada pendapat yang mengatakan Hideyoshi lahir tahun 1536, tapi hasil penelitian yang bisa dipercaya mengatakan Hideyoshi lahir tahun 1537.
[sunting] Pesuruh klan Imagawa
Pada waktu muda, Hideyoshi yang masih bernama
Kinoshita Tōkichirō bekerja sebagai pesuruh yang bekerja untuk pemilik Istana Zudaji yang bernama
Matsushita Naganori (alias Matsushita Takahei) dan putranya Matsushita Yukitsuna yang juga menggunakan nama alias yang sama seperti ayahnya (Matsushita Kahei). Istana Zudaji merupakan cabang
Istana Hikuma yang menurut nama tempat zaman dulu ada di kota Zudaji (sekarang menjadi kota
Hamamatsu), Nagakami no goori, di
provinsi Tootōmi yang merupakan wilayah kekuasaan
klan Īo yang merupakan bawahan dari
klan Imagawa.
Setelah bekerja untuk Matsushita Yukitsuna, Hideyoshi bekerja sebagai bawahan
Tokugawa Ieyasu. Pada tahun
1584, Hideyoshi menerima 1.600
koku untuk mengawasi
provinsi Tamba dan
provinsi Kawachi, Selanjutnya pada tahun
1584, Hideyoshi menerima 16.000
koku berikut Istana Tootōmikuno yang berdekatan dengan Istana Zudaiji.
Bawahan Nobunaga
Pada tahun
1554 Hideyoshi mulai bekerja sebagai bawahan kelas rendah untuk
Oda Nobunaga. Hideyoshi bekerja antara lain sebagai kepala tukang kayu dan kepala bagian dapur di
Istana Kiyosu. Hideyoshi bekerja dengan rajin dan berhasil menarik perhatian Oda Nobunaga yang terkesan dengan hasil pekerjaan Hideyoshi. Berkat prestasinya yang luar biasa, Hideyoshi menjadi sangat terkenal di kalangan pengikut Nobunaga. Nobunaga kabarnya suka menyebutnya dengan panggilan kesayangan si "monyet" atau "tikus botak," karena penampilan Hideyoshi yang kurang tampan. Pada tahun
1564, Hideyoshi menikah dengan seorang wanita bernama Nene (dikenal sebagai
Kōdaiin atau O-ne).
Kisah Hideyoshi membangun
Istana Sunomata dalam semalam sewaktu bertempur melawan
Saitō Tatsuoki asal
Mino tidak dapat dibuktikan kebenarannya karena berasal dari buku sejarah Bukōyawa
(武功夜話?) yang merupakan cerita karangan orang pada awal
zaman Edo. Pada saat itu, Hideyoshi memimpin kelompok yang antara lain terdiri dari
Takenaka Shigeharu,
Hachisuka Koroku dan
Maeno Nagayasu.
Pada tahun
1568, sewaktu Oda Nobunaga pergi ke ibu kota (Kyoto), Hideyoshi bekerja bersama-sama dengan
Akechi Mitsuhide di Kyoto. Dalam catatan yang ditulis pada waktu itu, sudah disebut-sebut nama Hideyoshi.
Pada tahun
1570 Hideyoshi memimpin pasukan untuk memadamkan pemberontakan
Asakura Yoshikage di Echizen. Pada mulanya, pasukan dapat bergerak maju tanpa ada hambatan dari musuh. Pasukan Oda Nobunaga yang sedang berbaris dalam perjalanan di sekitar Kanegasaki diserang dari belakang secara tiba-tiba oleh sekutu Nobunaga asal Ōmi utara yang bernama Azai Nagamasa.
Konon pasukan Azai dan pasukan Asakura menjepit pasukan Nobunaga dari kedua sisi sehingga pastinya nyawa Oda Nobunaga berada dalam bahaya. Hideyoshi memohon kepada Nobunaga agar diberi kesempatan untuk bertempur di posisi paling belakang (
shingari), maksudnya untuk memberi perlindungan kepada pasukan Nobunaga yang sedang mundur agar bisa lolos. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Jalan Lolos Kanegasaki
(金ヶ崎の退き口, kanegasaki nukiguchi?). Atas jasa menyelamatkan nyawanya, Nobunaga memberi hadiah 30 keping emas kepada Hideyoshi yang juga berhasil selamat dalam pertempuran. Dalam sekejap Hideyoshi tampil sebagai ksatria gagah berani.
Azai Nagamasa berhasil dihabisi Hideyoshi dalam pertempuran di benteng Odani
[sunting] Penguasa Istana Nagahama
Azai Nagamasa tewas di tahun
1573 dan klannya musnah, Hideyoshi ditunjuk untuk memerintah
provinsi Ōmi yang menjadi teritori klan Azai. Hideyoshi menganggap perlu mengganti nama Imahama menjadi Nagahama. Hideyoshi lalu menjadi penguasa
Istana Nagahama. Dari daerah Ōmi, Hideyoshi merekrut sisa-sisa pasukan Azai berikut sejumlah ksatria muda seperti
Ishida Mitsunari,
Katō Kiyomasa, dan
Fukushima Masanori.
Pada masa itu, Hideyoshi mengganti namanya menjadi Hashiba Hideyoshi. Nama keluarga Hashiba terdiri dari dua aksara
kanji yang masing-masing diambil dari nama keluarga dua asisten pribadi Nobunaga, yakni
Niwa Nagahide (丹羽長秀?) untuk aksara ha
(羽?) dan
Shibata Katsuie (柴田勝家?) untuk aksara shiba
(柴?).
Pada tahun
1576, Nobunaga memerintahkan Hideyoshi untuk membantu kepala pasukan dari daerah Hokuriku bernama
Shibata Katsuie yang sedang berusaha membasmi pasukan
Uesugi Kenshin dari Echigō. Hideyoshi berselisih paham soal strategi pertempuran dengan Katsuie sehingga Hideyoshi memutuskan untuk menarik pasukan dan pulang begitu saja tanpa izin Nobunaga. Pasukan Katsuie akhirnya berhasil ditaklukkan Uesugi Kenshin dalam peristiwa yang disebut
Pertempuran Sungai Tetori. Nobunaga sangat marah kepada Hideyoshi tapi akhirnya Nobunaga mau mengampuni Hideyoshi.
Penaklukan daerah Chūgoku
Setelah itu, Nobunaga memerintahkan Hideyoshi untuk menaklukkan daerah Chūgoku. Pasukan maju sampai
provinsi Harima, dibantu pasukan
Akamatsu Norifusa,
Bessho Nagaharu dan
Kodera Masamoto. Pengikut Kodera Masamoto yang bernama
Kodera Yoshitaka (dikenal juga sebagai
Kuroda Yoshitaka) meminjamkan
Istana Himeji kepada Hideyoshi sebagai markas invasi ke daerah Chūgoku.
Pada tahun
1579 Hideyoshi berhasil menaklukkan daimyo
Ukita Naoie penguasa
provinsi Bizen dan
provinsi Mimasaka. Hideyoshi selanjutnya melakukan invasi ke
provinsi Inaba untuk menyerang
Istana Tottori yang dikuasai
Yamana Toyokuni.
Pada tahun
1580, Bessho Nagaharu penguasa
Istana Miki dari
provinsi Harima menyerah akibat kehabisan perbekalan setelah mengadakan pemberontakan selama 2 tahun melawan klan Oda.
Yamana Akihiro penguasa
provinsi Tamba yang terkepung di dalam
Istana Izushi akhirnya juga menyerah.
Pada tahun
1581, kelompok pengikut
Yamana Toyokuni dari
provinsi Inaba yang sedang diasingkan bergabung dengan pihak klan Mōri yang dipimpin
Yoshinaga Tsuneie mengadakan pemberontakan dari
Istana Tottori. Hideyoshi membeli semua bahan makanan dari daerah Tottori dan sekitarnya, serta memutuskan jalur perbekalan makanan ke dalam istana, sehingga Istana Tottori yang sedang terkepung kehabisan perbekalan dan jatuh tidak lama kemudian. Hideyoshi kemudian bertempur melawan
Mōri Terumoto yang menguasai wilayah Chūgoku bagian barat.
Hideyoshi mendapat julukan "Hideyoshi si ahli menjatuhkan istana"
(城攻めの名手秀吉, shirozeme no meishū hideyoshi?) berkat strateginya menyulitkan perbekalan musuh sewaktu menaklukkan Istana Tottori dan Istana Miki, serta menyerang
Istana Takamatsu dengan banjiran air sewaktu menginvasi wilayah Chūgoku.
Kematian Nobunaga dan Pertemuan Kiyosu
Hideyoshi sedang menyerang
Istana Takamatsu dengan banjiran air pada waktu Oda Nobunaga dibunuh oleh
Akechi Mitsuhide dalam
Peristiwa Honnōji di tahun
1582. Hideyoshi yang mendengar kabar kematian majikannya segera berhasil berdamai dengan pihak Mōri dengan syarat pemilik Istana Takamatsu yang bernama
Shimizu Muneharu melakukan
seppuku. Hideyoshi lalu menarik kembali pasukannya ke Kyoto secara besar-besaran. Peristiwa ini dikenal dengan Penarikan Pasukan dari Chūgoku
(中国大返し, chūgoku ōgaeshi?). Akechi Mitsuhide akhirnya berhasil dihabisi dalam
Pertempuran Yamazaki.
Berkat prestasi yang luar biasa serta dukungan dari
Niwa Nagahide dan
Ikeda Tsuneoki, Hideyoshi mendapat kesempatan memimpin pertemuan negarawan senior yang dilangsungkan di
Istana Kiyosu. Dalam pertemuan Kiyosu, Hideyoshi menentang rencana
Shibata Katsuie yang mengusulkan agar
Oda Nobutaka mengambil alih pimpinan klan Oda. Menurut pendapat Hideyoshi, putra
Oda Nobutada yang masih kanak-kanak yang bernama Sanbōshi (selanjutnya dikenal sebagai
Oda Hidenobu) merupakan pewaris pemerintahan militer Oda Nobunaga yang sah. Hideyoshi kemudian berhasil menjadi pelindung Sanbōshi.
Pertentangan dengan Shibata Katsuie
Pada tahun
1583, Hideyoshi berperang melawan
Shibata Katsuie yang menentangnya secara politik. Pertempuran berlangsung sengit, tapi akhirnya berhasil dimenangkan pasukan Hideyoshi akibat
Sakuma Morimasa dari pihak Katsuie yang bertempur membabi buta dan
Maeda Toshiie yang membelot dari pihak Katsuie ke pihak Hideyoshi. Katsuie kemudian hanya bisa bertahan di markas besarnya di
Istana Kitanoshō yang terkepung pasukan Hideyoshi. Katsuie tidak mempunyai jalan lain kecuali melakukan seppuku. Peristiwa ini disebut
Pertempuran Shizugatake. Dalam pertempuran ini peran Tujuh Satria Shizugatake
(賤ヶ岳七本槍, shizugatake nana hon yari?) sangat menentukan kemenangan Hideyoshi.
Konon Hideyoshi juga sudah berpikir untuk menyelamatkan nyawa istri Katsuie bernama
Oichi no kata yang akhirnya memilih mati bersama suaminya. Sebelum dijadikan istri oleh Katsuie, Oichi no kata adalah janda dari
Azai Nagamasa yang juga dibunuh Hideyoshi
Akibat pertempuran Shizugatake,
Oda Nobutaka kehilangan pelindungnya Katsuie, dan
Takigawa Kazumasa yang merupakan penentang Hideyoshi akhirnya menjadi tunduk. Nobutaka melakukan
seppuku, sedangkan Kazumasa menjadi bawahan pengikut Hideyoshi.
[sunting] Pertentangan dengan Tokugawa Ieyasu
Dalam
Pertempuran Komaki-Nagakute di tahun
1584,
Ikeda Tsuneoki dan
Mori Nagayoshi yang berada di pihak Hideyoshi sudah terbunuh oleh pihak Tokugawa, tapi Hideyoshi berhasil berdamai dengan
Oda Nobukatsu yang berada di pihak Tokugawa. Akibatnya, pasukan Tokugawa terpaksa ditarik dan putra Tokugawa yang bernama
Matsudaira Hideyasu dikirim ke Hideyoshi untuk dijadikan anak angkat sebagai syarat berdamai .
Hideyoshi selanjutnya mengirim ibu kandung Hideyoshi yang bernama
Ōmandokoro sebagai tawanan dan memberikan adik perempuannya
Putri Asahi kepada Ieyasu untuk dijadikan istri. Hideyoshi memberi kesempatan kepada Ieyasu yang sudah menjadi pengikutnya untuk menemani pergi ke Kyoto. Ieyasu menerima penawaran dan berjanji untuk setia kepada Hideyoshi. Berdasarkan perjanjian ini, Hideyoshi secara
de facto berhasil menjadi pewaris pemerintahan militer Oda Nobunaga.
Pembangunan Istana Osaka dan nama keluarga Toyotomi
Pada tahun
1583, Hideyoshi mendirikan
Istana Osaka di bekas kuil
Ishiyama Honganji. Ōtomo Yoshishige seorang daimyo dari Kyushu sangat terkejut dengan kemegahan Istana Osaka dan memujinya sebagai bangunan "tiada ada duanya di Jepang." Istana Osaka sebenarnya mempunyai sedikit masalah dalam soal pertahanan yang kabarnya Hideyoshi sendiri sangat prihatin. Di beberapa tempat di Istana Osaka yang menurut
Sanada Nobushige mempunyai pertahanan yang lemah dibangun benteng pertahanan yang dikenal sebagai
Sanada Maru. Berkat usaha Nobushige, Istana Osaka menjadi jauh lebih kuat sehingga di kemudian hari menimbulkan kerugian besar di pihak pasukan Tokugawa.
Pada tahun
1585, Hideyoshi menjadi anak angkat
Konoe Sakihisa sehingga bisa mendapat gelar
Kampaku dari kaisar. Tahun berikutnya (
1586), Hideyoshi menerima nama keluarga Toyotomi, menjalankan tugas sebagai Daijō Daijin dan melakukan konsolidasi kekuasaan. Ada pendapat yang mengatakan Hideyoshi bermaksud melancarkan jalan ke arah terbentuknya "Keshogunan Hideyoshi" dengan mengusulkan dirinya diangkat sebagai anak angkat oleh
Ashikaga Yoshiaki, tapi ternyata usul Hideyoshi ditolak.
Invasi ke Shikoku dan Etchū
Hideyoshi setalah berhasil mengatasi
Pemberontakan Ikko-ikki di
provinsi Kii, segera bergerak maju menghadapi
Chōsokabe Motochika yang dianggap bisa menjadi saingan karena baru saja berhasil menyatukan
Shikoku. Hideyoshi meminta Motochika untuk mengembalikan 3 provinsi (
Awa,
Sanuki dan
Iyo) ke tangan Hideyoshi, tapi usul ini ditolak mentah-mentah oleh Motochika. Hideyoshi merasa tidak ada jalan lain kecuali menunjuk adiknya
Hashiba Hidenaga sebagai panglima gabungan untuk memimpin invasi ke Shikoku.
Pasukan
Toyotomi Hidenaga dan
Toyotomi Hidetsugu menyerbu provinsi Awa,
Ukita Hideie menyerbu provinsi Sanuki, sedangkan
klan Mōri menyerbu provinsi Iyo dengan kekuatan pasukan gabungan sejumlah 100.000 prajurit. Motochika yang merasa pertempuran bakal tidak seimbang segera menyerah tanpa mau bertempur. Peristiwa ini dikenal sebagai
Invasi Shikoku (四国征伐, shikoku seibatsu?)
Pasukan Hideyoshi selanjutnya menghadapi perlawanan
Maeda Toshiie dari
provinsi Kaga, dan menaklukkan
Sassa Narimasa asal
provinsi Etchū. Pada tahun
1588, Sassa Narimasa diperintahkan melakukan
seppuku karena dituduh salah mengurus pemerintahan
provinsi Higo.
Penaklukan Kyushu
Kekuasaan
Shimazu Yoshihisa di
Kyushu telah menjadi begitu kuat pada saat itu, sehingga
Ōtomo Yoshishige yang merasa ditindas oleh klan Shimazu meminta pertolongan Hideyoshi. Invasi ke Kyushu tidak dapat dihindari karena peringatan Hideyoshi agar Shimazu Yoshihisa menyerah ternyata tidak ditanggapi.
Pada tahun
1586, pasukan gabungan Hideyoshi yang dipimpin
Sengoku Hidehisa sebagai panglima, dengan bawahan
Chōsokabe Motochika dan anaknya
Chōsokabe Nobuchika,
Sogō Masayasu, dan
Ōtomo Yoshimune mengalami kekalahan besar dalam pertempuran sungai Hetsugi melawan pasukan
Shimazu Yoshihisa di provinsi Bungo. Peristiwa ini dinamakan
Pertempuran sungai Hetsugi. Tewasnya Chōsokabe Nobuchika dan Sogō Masayasu dan Sengoku Hidehisa yang tidak bisa mengatur pasukan kabarnya menjadi sebab kekalahan pasukan gabungan Hideyoshi.
Pada tahun
1587, Hideyoshi bersama dengan adiknya Hidenaga berniat menuntut balas dengan memimpin sendiri invasi besar-besaran ke Kyushu dengan total pasukan mencapai 200.000 prajurit. Pasukan Shimazu akhirnya berhasil ditaklukkan dan Shimazu Yoshihisa dan
Shimazu Yoshihiro terpaksa menyerah. Peristiwa ini disebut Invasi ke Kyushu
(九州征伐, kyūshū seibatsu?). Setelah berhasil menundukkan Shimazu yang merupakan musuh besar terakhir, Hideyoshi berhasil menjadi pemimpin yang menguasai seluruh bagian barat Jepang.
Pada tahun
1587, Hideyoshi mengeluarkan perintah
Bateren Tsuhorei (バテレン追放令, bateren tsuihōrei?, pengusiran misionaris Kristen) yang antara lain melarang agama Kristen dan melarang daimyo mengkristenkan pengikutnya. Tahun berikutnya (
1588), Hideyoshi mengeluarkan perintah
Perburuan Katana (刀狩, katanagari?) yang melarang kalangan bukan samurai untuk memiliki
katana.
[sunting] Penaklukan Odawara
Pada tahun
1589, pengikut klan Gohōjō yang bernama
Inomata Kuninori merebut
Istana Nagurumi di
provinsi Kōzuke yang dijaga
Suzuki Shigenori yang merupakan pengikut
Sanada Masayuki. Hideyoshi menganggap peristiwa ini sebagai kesempatan untuk melakukan invasi ke tempat yang jauh di wilayah
Kanto. Pada tahun berikutnya (
1590), Hideyoshi berniat untuk menaklukkan
Istana Odawara.
Hideyoshi memerintahkan para daimyo di wilayah
Tohoku untuk bergabung membantu pasukannya menyerang Odawara.
Date Masamune yang menguasai sebagian besar wilayah Tohuku merasa ragu-ragu untuk mengirim pasukan. Hideyoshi lalu menjadi sangat marah karena Masamune yang dinanti-nanti tidak juga mau muncul-muncul. Masamune yang mengetahui hal ini bergegas mengenakan pakaian yang biasa dipakai orang meninggal dan pergi menghadap Hideyoshi untuk meminta pengampunan. Pada akhirnya, Hideyoshi memang bisa mengampuni Masamune yang terlambat datang. Konon pada saat itu Hideyoshi menyentuh bagian belakang leher Masamune dengan kipas dan berkata, "Kalau datang terlambat sedikit saja, bagian ini bahaya."
Pertahanan Istana Odawara konon luar biasa kuat bahkan
Uesugi Kenshin dan
Takeda Shingen tidak bisa menaklukkannya, tapi di tangan Hideyoshi ternyata Istana Odawara dapat ditaklukkan dengan mudah. Pasangan bapak dan anak
Hōjō Ujimasa dan
Hōjō Ujinao yang mampu bertahan selama 3 bulan di dalam istana yang sudah terkepung akhirnya menyerah. Ujimasa melakukan seppuku, sedangkan Ujinao diasingkan ke
Gunung Kōya. Peristiwa ini disebut sebagai
Invasi Odawara.
[sunting] Pemersatu Jepang
Toyotomi Hideyoshi berhasil menjadi pemimpin pemersatu Jepang setelah menaklukkan klan Gohōjō yang merupakan musuh besar terakhir. Hideyoshi berhasil menghentikan perang berkecamuk sejak lama dan menandai berakhirnya
periode Sengoku.
Pada tahun
1591, Hideyoshi melakukan suksesi, jabatan
Kampaku diwariskan Hideyoshi kepada keponakannya yang bernama
Toyotomi Hidetsugu, sedangkan Hideyoshi mendapat gelar
Taikō (sebutan kehormatan untuk pensiunan Kampaku).
Ada cerita tentang Hideyoshi yang kabarnya pernah memerintahkan pengikutnya, seorang guru
upacara minum teh (茶人, さじん?, sajin) yang bernama
Sen no Rikyū untuk bunuh diri.
Furuta Shigeteru dan
Hosokawa Tadaoki sudah berusaha menjelaskan duduk perkara dan memohon kepada Hideyoshi untuk mengampuni nyawa Sen no Rikyū tapi ternyata tidak ditanggapi. Sen no Rikyū akhirnya melakukan seppuku dan kepalanya dipertontonkan di jembatan Ichijōmodori. Ada berbagai pendapat yang bertentangan mengenai sebab terjadinya peristiwa ini.
Pada tahun itu juga (1591), terjadi pemberontakan yang disebabkan oleh seluruh anggota keluarga
klan Nambu terlibat sengketa soal pewaris kekuasaan
Kunohe Masazane. Hideyoshi segera menyetujui permohonan bantuan dari
Nambu Nobunao dan menunjuk
Toyotomi Hidetsugu sebagai panglima pasukan gabungan. Pasukan gabungan untuk menyerbu Kunohe terdiri dari pasukan pimpinan
Gamō Ujisato,
Asano Nagamasa, dan
Ishida Mitsunari. Pasukan milik para daimyo dari wilayah Tohoku juga diperintahkan untuk bergabung, sehingga pasukan jumlahnya makin bertambah banyak. Konon jumlah pasukan yang menyerbu Kuzunohe hingga mencapai 60.000 prajurit. Kakak beradik
Kunohe Masazane dan
Kunohe Sanechika memang mengadakan perlawanan tapi akhirnya tidak berdaya diserang pasukan dalam jumlah besar dan menyerah. Pemberontakan selesai setelah seluruh anggota keluarga klan Kunohe dihabisi dengan cara dipenggal.
Perang Tujuh Tahun hingga akhir hayat
Pada tahun 1592, Hideyoshi mengirim pasukan ke dinasti
Joseon (sekarang dikenal sebagai
Korea). Perang ini disebut
Perang Tujuh Tahun (文禄・慶長の役, bunroku keichō no eki?). Pada saat awalnya, pasukan Joseon dapat mudah ditaklukkan, Hanyang (sekarang dikenal sebagai
Seoul) pun berhasil dikuasai pasukan Hideyoshi. Situasi perang bertambah buruk akibat datangnya bala bantuan dari
dinasti Ming dan perlawanan pasukan relawan dari berbagai daerah di Joseon, sehingga harus dibuat
gencatan senjata.
Pada tahun
1593 lahir seorang anak laki-laki yang dinamakan
Toyotomi Hideyori dari istri muda Hideyoshi yang bernama
Yodo dono. Dua tahun kemudian (
1595), keponakan Hideyoshi yang bernama
Toyotomi Hidetsugu diperintahkan untuk melakukan seppuku dengan alasan perbuatan Hidetsugu sudah tidak terkendali sampai-sampai mendapat julukan "Kampaku haus darah." Penasehat Hidetsugu dan pengikut setia Hideyoshi seperti
Maeno Nagayasu juga dianggap terlibat sehingga diperintahkan melakukan
seppuku. Seluruh anggota keluarga Hidetsugu seperti istri dan anak-anaknya juga dihukum mati. Ada berbagai pendapat yang meragukan perbuatan perbuatan yang di luar batas yang dilakukan Hidetsugu. Pendapat lain mengatakan Hidetsugu dianggap tidak dibutuhkan lagi karena kelahiran Toyotomi Hideyori yang merupakan anak sah dari Yodo dono sekaligus pewaris klan Hideyoshi.
Kegagalan perundingan damai menyebabkan Hideyoshi kembali menginvasi Joseon untuk yang kedua kali pada tahun
1597. Di tengah kemelut invasi ke Joseon, Hideyoshi yang menderita
kanker perut merasa umurnya tidak akan lama lagi. Pada tanggal 18 Agustus 1598, Hideyoshi memanggil lima pembantu seniornya dan menunjuk
Tokugawa Ieyasu dan
Toyotomi Hideyori sebagai pelaksana tugas sehari-hari, sedangkan
Maeda Toshiie ditunjuk sebagai pendamping Hideyori yang masih kecil. Hideyoshi lalu tutup usia di
Istana Fushimi di usia 62 tahun.
Invasi ke Joseon berakhir setelah wafatnya Hideyoshi. Perang ini menyebabkan kerugian besar pada tentara rakyat Joseon dan kerusakan besar-besaran wilayah Joseon. Kerugian besar juga dialami pasukan bala bantuan dari kekaisaran
dinasti Ming, tapi pihak Jepang justru mengalami kerugian yang jauh lebih besar. Prajurit terbaik Hideyoshi banyak yang gugur di medan laga Joseon, sehingga hubungan antara klan Hideyoshi dan para pengikutnya menjadi retak. Salah satu agenda politik luar negeri
Keshogunan Tokugawa adalah memperbaiki hubungan buruk antara Jepang dan
Joseon.
Sebelum tutup usia, Hideyoshi menulis puisi perpisahan berupa
tanka yang berbunyi:
tsuyu to ochi tsuyu to kienishi wagamikana naniwa no koto wa yume no mata yume (露と落ち 露と消えにし 我が身かな 浪速のことは 夢のまた夢?, embun jatuhlah, embun lalu hilanglah, jalan hidupku, kisah tentang Naniwa, mimpi di dalam mimpi).
Mengenai nama keluarga Toyotomi
Nama keluarga Toyotomi diterima Hideyoshi dari kaisar Goyōzei. Sebelumnya, Hideyoshi juga pernah menggunakan nama keluarga Kinoshita dan Hashiba. Seperti lazim diketahui orang zaman sekarang, Hideyoshi mengganti nama dari
Hashiba Hideyoshi menjadi
Toyotomi Hideyoshi setelah dihadiahkan nama keluarga Toyotomi dari kaisar. Hideyoshi sebenarnya tetap menggunakan menggunakan nama keluarga Hashiba sampai saat wafatnya, begitu juga halnya dengan sanak keluarga Hideyoshi seperti Hidenaga dan Hidetsugu.
Bushi lazim menyebut dirinya di depan orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dengan nama pemberian kaisar
(本姓, hon sei?) diikuti dengan nama asli
(諱, imina?). Taira no Kagetora merupakan nama pemberian kaisar kepada
Uesugi Kenshin alias Nagao kagetora, sedangkan Minamoto no Harunobu merupakan nama pemberian kaisar untuk
Takeda Shingen alias Takeda Harunobu.
Nama "Toyotomi Hideyoshi" seperti yang sering disebut banyak orang merupakan cara membaca nama dalam aksara
kanji yang tidak benar, karena nama asli dan nama pemberian kaisar yang dicampur aduk. Sebenarnya jika mau menyebut orang ditambah nama pemberian kaisar, di antara nama pemberian kaisar dan nama panggilan harus ditambahkan kata "no" yang berarti "dari klan," contohnya Taira
no Kiyomori yang berarti Kiyomori
dari klan Taira. Berdasarkan aturan tersebut, nama Toyotomi Hideyoshi seharusnya dibaca sebagai
Toyotomi no Hideyoshi.
Jasa-jasa
Kebijakan politik
Hideyoshi mengikuti kebijakan politik yang dirintis oleh Oda Nobunaga. Hideyoshi mengatur administrasi kota dan memajukan perdagangan dengan sistem pasar bebas
(楽市・楽座, rakuichi rakuza?), kebijakan ekspor-impor menggunakan
Kapal Segel Merah (朱印船貿易, Shuinsen boeki?), regulasi perdagangan dengan mencetak mata uang logam. Sistem perpajakan dikelola berdasarkan survei wilayah dan
sensus yang disebut Taikōkenchi
(太閤検地?) dan pelarangan orang biasa memiliki
Katana Katana gari
(刀狩?). Hideyoshi menciptakan sistem kelas dalam masyarakat yang memisahkan orang biasa (petani, produsen, dan pedagang) dengan kelas
bushi. Sistem ini dijadikan dasar sistem pemerintahan regional yang disebut Bakuhan taisei
(幕藩体制?) pada zaman
Keshogunan Edo. Ada juga pendapat yang bisa dipercaya yang mengatakan pelarangan orang biasa memiliki Katana pada masa Hideyoshi tidak berhasil diterapkan sepenuhnya.
Hideyoshi sudah sejak awal menyadari bahaya Kirishitan (sebutan pada zaman itu untuk agama
Kristen) dan mengetahui rencana terselubung para misionaris yang membantu politik kolonialisme negara-negara Eropa di zaman penjelajahan, termasuk di antaranya
perdagangan orang Jepang sebagai budak. Hideyoshi mendapat informasi tentang peran misionaris membantu Kerajaan
Spanyol memperluas wilayah koloni dari seorang misionaris penumpang kapal San Felipe yang mengalami kecelakaan dan hanyut ke provinsi Tosa (
Shikoku). Kebijakan Hideyoshi untuk mengatasi ancaman Kirishitan dilanjutkan oleh pemerintah
Keshogunan Edo.
Kegagalan invasi Joseon yang merupakan ambisi masa tua Hideyoshi untuk memperluas wilayah kekuasaan berakibat pada banyaknya pengikut klan Hideyoshi yang membelot ke kubu klan Tokugawa. Pembelotan besar-besaran pengikut setia Hideyoshi mengakibatkan basis kekuasaan klan Hideyoshi menjadi lemah, yang nantinya menjadi sebab berakhirnya pemerintahan Hideyoshi.
Profil
Toyotomi Hideyoshi adalah salah satu tokoh sejarah yang paling terkemuka di Jepang. Dalam waktu satu tahun setelah Nobunaga tutup usia, Hideyoshi berhasil menjadi pewaris kekuasaan Nobunga. Hideyoshi berhak menjadi pengganti Nobunaga walaupun pangkatnya pada waktu itu masih 3 sampai 4 tingkat di bawah. Alasannya, prestasi Hideyoshi di bidang politik dan militer dianggap sangat luar biasa dan tanpa tanding, mulai dari
Insiden Honnōji,
Penarikan Pasukan dari Chūgoku,
Pertempuran Yamazaki, berkesempatan menghadiri Pertemuan Kiyosu, dan bertempur gagah berani dalam
Pertempuran Shizugatake.
Hideyoshi sedikit demi sedikit kehilangan keseimbangan dan anggota keluarga yang harus mendukungnya kebanyakan justru bernasib malang. Ibunya yang bernama
Ōmandokoro dan adik perempuannya yang bernama
Putri Asahi harus menjadi tawanan Ieyasu. Hidenaga yang merupakan adik kandung laki-laki sekaligus pembantunya yang cerdas juga harus tutup usia dalam usia muda. Hideyoshi pernah memerintahkan hukuman mati untuk Hidetsugu yang masih keponakan sendiri berikut seluruh anggota keluarga.
Hideyoshi dan istri sahnya Kōdaiin tidak memiliki putra yang dapat mewariskan kekuasaan klan Hideyoshi. Hal ini berakibat fatal pada kesinambungan kekuasaan klan Hideyoshi, karena mewariskan wilayah kekuasaan ke tangan anak kandung merupakan strategi mempertahankan kekuasaan di
zaman Sengoku. Ada pendapat lain yang mengatakan, seandainya sebelum tutup usia Hideyoshi memiliki anak kandung yang sudah dewasa, walaupun anak itu tidak secerdas ayahnya tapi Ieyasu mungkin tidak berkesempatan melakukan tindakan sewenang-wenang menghancurkan klan Hideyoshi.
Di akhir hayatnya, Hideyoshi menjadi diktator bertangan besi dan tidak secemerlang Hideyoshi di zaman Oda Nobunaga. Ada banyak pendapat yang mengatakan, walaupun pada akhirnya klan Hideyoshi dihancurkan oleh Ieyasu, Hideyoshi sebenarnya juga bertanggung jawab atas kehancuran klannya. Kalangan sejarawan berpendapat eksekusi
Hidetsugu dan seluruh anggota keluarga serta invasi ke Joseon merupakan keputusan paling bodoh yang pernah dilakukan Hideyoshi.
Pada
zaman Meiji hingga
zaman Showa sebelum
Perang Dunia II, Jepang melancarkan
propaganda "memakmurkan negara dan memperkuat militer"
(富国強兵政策, fukoku kyōhei seisaku?). Pemerintah Jepang antara lain mencoba menjadikan perjalanan hidup Toyotomi Hideyoshi dari kalangan bawah menjadi pejabat tinggi Kampaku Dajo Daijin sebagai panutan orang banyak. Kisah perjalanan hidup Hideyoshi kemudian ternyata banyak disukai orang. Konon ada dokumen zaman itu yang mengganti istilah Perang tahun Bunroku dan tahun Keichō
(文禄・慶長の役, bunroku keichō no eki?) menjadi Penaklukan Joseon
(朝鮮征伐, chōsen seibatsu?) dengan tujuan menakuti-nakuti musuh (pemimpin militer Joseon) dan menunjukkan kepada dunia bahwa Jepang adalah negara yang kuat.
Di Jepang, Hideyoshi dikagumi sebagai sosok yang menyenangkan dan bersahabat, lebih mementingkan kecerdasan dibanding kekuatan fisik dan selalu riang. Hideyoshi juga disukai rakyat sehingga mempunyai nama panggilan Taikō-san (nama jabatan ditambah kata "
san") yang menunjukkan Hideyoshi dekat di hati rakyat. Pada zaman itu, pemimpin yang disegani tidak pernah disebut dengan panggilan akrab karena tidak mau keselamatan terancam.
Berdasarkan perjalanan hidup masing-masing tokoh, kisah-kisah yang banyak beredar umumnya menggambarkan Hideyoshi sebagai tokoh yang bersifat periang dan berpengetahuan luas, berlawanan dengan Nobunaga yang genius namun bersifat dingin dan Ieyasu yang suka berhati-hati tapi terus terang.
Hideyoshi sangat populer di berbagai daerah di Jepang. Museum Hideyoshi dibangun di tanah kelahirannya di distrik Nakamura
Nagoya. Pawai orang dengan kostum Hideyoshi, Oda Nobunaga, dan Tokugawa Ieyasu diselenggarakan setiap tahun dalam perayaan
Nagoya Matsuri. Hideyoshi juga sangat populer di
Osaka, tempat yang pernah dijadikannya markas besar pemerintahan. Di kalangan pedagang di Osaka, Hideyoshi juga dianggap berjasa menjadikan Osaka sebagai kota perdagangan di zaman Edo.
Sampai saat ini, cerita tentang asal-usul Hideyoshi masih diselubungi tanda tanya. Ada pendapat yang mengatakan ayah Hideyoshi yang bernama Yaemon adalah bukan sekadar petani biasa. Konon ayah Hideyoshi sebenarnya tergabung dalam pasukan klan Oda sebagai prajurit Ashigaru
(足軽?) (kelas paling bawah) yang di masa damai bekerja sebagai petani. Hideyoshi sebelum menikah tidak mempunyai nama keluarga. Hideyoshi baru pertama kali memakai nama keluarga dan menamakan dirinya Kinoshita Hideyoshi sesudah kawin dengan Nene (
Kōdaiin). Jika memang benar dirinya seorang petani, ayah Hideyoshi seharusnya mempunyai nama keluarga. Pada saat itu, orang yang menyebut diri sebagai petani (biasanya memiliki tanah atau industri kecil) lazimnya menggunakan nama keluarga yang diambil dari nama kampung tempat tinggal. Petani zaman itu memiliki nama keluarga untuk membedakan anggota keluarganya dengan penduduk lain yang tinggal satu kampung. Hideyoshi tidak mempunyai nama keluarga sebelum menikah, sehingga tidak tertutup kemungkinan ayah Hideyoshi bukanlah dari kelas petani, melainkan dari kelas rakyat jelata yang berada di bawah kelas petani.
Ada beberapa penjelasan mengapa Hideyoshi sering dipanggil
monyet. Ada coret-coretan yang bernada mengejek dibuat sewaktu Hideyoshi baru diangkat sebagai Kampaku. Konon Hideyoshi tidak jelas asal-usul keturunannya sehingga dijadikan barang tertawaan, "jangan-jangan Hideyoshi keturunan monyet." Alasan Hideyoshi dipanggil
monyet mungkin bukan disebabkan tampangnya yang jelek, soalnya bukti Nobunaga memanggil Hideyoshi dengan sebutan
monyet juga tidak pernah ditemukan. Hideyoshi memang pernah disebut sebagai
tikus botak dalam satu pucuk surat yang ditulis Nobunaga kepada istri Hideyoshi (Nene), tapi sebutan ini hanya dipakai sekali dalam satu pucuk surat dan kabarnya bukan panggilan yang selalu digunakan oleh Nobunaga.
Hideyoshi dikenal sebagai seorang yang mempunyai tangan kanan berjari enam (ibu jempol tangan kanannya ada dua). Pada masa itu, jari yang berlebih biasanya dipotong sewaktu masih kanak-kanak, tapi tetap dibiarkan Hideyoshi.
Hideyoshi konon sangat dibenci di
Korea karena pernah melakukan invasi ke Joseon. Kebalikannya, admiral
Yi Sun-sin yang memimpin pasukan Joseon menjadi pahlawan nasional yang disanjung-sanjung di Korea.
Lokasi makam
Hideyoshi dimakamkan di gunung Amidagamine (sekarang makamnya dinamakan Houkoku-byō). Hideyoshi setelah meninggal didewakan sebagai Toyokuni Dai Myōjin di kuil
Shintō bernama Toyokuni-jinja yang terdapat di banyak tempat di Jepang.
Keshogunan Tokugawa pernah mengeluarkan perintah untuk menghancurkan semua kuil Toyokuni yang mendewakan Hideyoshi. Pada
zaman Meiji, sebagai usaha untuk memulihkan nama Hideyoshi, pemerintah kembali mendewakan Hideyoshi secara berdampingan dengan Ieyasu di kuil Nikkōtōshōgū yang terletak di
Prefektur Tochigi.
Silsilah
Sanak keluarga
- Istri sah: Kōdaiin (O ne), putri kedua Kinoshita Sadatoshi
- Istri lain: Minamidono
- Istri lain: Minami no Tsubone, putri Yamana Toyokuni
- Istri lain: Matsunomarudono (Kyōgoku Tatsuko), putri Kyōgoku Takayoshi
- Istri lain: Yododono (Chacha), putri Azai Nagamasa
- Istri lain: Kagadono (Putri Maa), putri Maeda Toshiie
- Istri lain: Putri Kai, putri Narita Ujinaga
- Istri lain: Sannomarudono, putri Oda Nobunaga
- Istri lain: Sanjōdono (Tora), putri Gamō Katahide
- Istri lain: Himejidono, putri Oda Nobukane
- Istri lain: Hirozawa no Tsubone
- Istri lain: Gekkeiin (Oshima atau Shimako), putri Ashikaga Yorizumi.
- Istri lain: Anrakuin (Otane no kata), putri samurai lokal
- Istri lain: Ofuku, putri Miuranotonokami, ibunda Ukita Hideie.
- Adik: Toyotomi Hidenaga
- Keponakan: Toyotomi Hidetsugu
- Keponakan: Toyotomi Hidekatsu
- Keponakan: Toyotomi Hideyasu
- Putra: Toyotomi Hidekatsu
- Putra: Toyotomi Tsurumatsu
- Putra: Toyotomi Hideyori
- Ipar: Asano Nagamasa
Anak angkat
Pengikut
Hideyoshi tidak dilahirkan dari keluarga daimyo turun temurun sehingga harus merekrut banyak pengikut baru dalam perjalanan hidupnya menjadi orang nomor satu di Jepang.
Bekas pengikut
Oda Nobunaga yang menjadi pengikut Hideyoshi antara lain:
Asano Nagamasa (bekas pesuruh Nobunaga),
Horio Yoshiharu,
Yamauchi Katsutoyo,
Nakamura Kazuuji,
Takenaka Shigeharu,
Higuchi Naofusa,
Wakizaka Yasuharu,
Katagiri Katsumoto,
Ishida Mitsunari,
Kuroda Yoshitaka, dan
Mashida Nagamori.
Fukushima Masanori dan
Katō Kiyomasa sejak kecil sudah dibesarkan oleh Hideyoshi.
Pengikut Hideyoshi banyak yang menunjukkan keberanian luar biasa dalam
Pertempuran Shizugatake, misalnya:
Fukushima Masanori,
Katō Kiyomasa,
Katō Yoshiakira,
Wakizaka Yasuharu,
Hirano Nagayasu,
Kasuya Takenori, dan
Katagiri Katsumoto. Ada juga perbedaan pendapat tentang nama-nama yang berhak disebut sebagai Tujuh Ksatria Shizugatake
(賤ヶ岳七本槍, shizugatake hon yari?).
Hideyoshi juga menyertakan beberapa bekas asisten Nobunaga seperti seperti
Maeda Toshiie,
Tamba Nagahide, dan
Hachisuka Masakatsu yang diwariskan kepadanya sebagai pengikut, tapi ada juga pendapat yang mengatakan hubungan Hideyoshi dengan para bekas asisten Nobunaga hanya sebatas sahabat.
Istri sah Hideyoshi yang bernama Kōdaiin (alias Nene) menghasut para daimyo bekas anak asuh Hideyoshi seperti
Fukushima Masanori agar tidak setia kepada klan Hideyoshi. Alasannya, Hideyori adalah anak Hideyoshi dari istri muda Yododono yang dicemburui Kōdaiin. Akibatnya, para daimyo bekas anak asuh Hideyoshi yang sudah tidak setia merasa tidak perlu membantu klan Hideyoshi ketika terjadi
Pertempuran Musim Dingin Osaka dan
Pertempuran Osaka.
Klan Hideyoshi mengalami kehancuran akibat kekurangan pengikut yang setia,
Ishida Mitsunari dihukum mati karena kalah dalam
Perang Sekigahara,
Ōtani Yoshitsugu melakukan
seppuku, dan
Ukita Hideie kalah perang dan diasingkan ke pulau terpencil. Ada juga pendapat yang mengatakan
Katō Yukinaga dan
Asano Nagamasa secara diam-diam terus mendukung Hideyoshi sementara
klan Tokugawa pura-pura tidak mengetahui hal ini. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kesetiaan
Katō Yukinaga dan
Asano Nagamasa pada klan Hideyoshi tetap tidak tergoyahkan sampai harus dibunuh dengan racun.
Organisasi pemerintahan Hideyoshi terdiri dari dewan lima menteri senior
(五大老, go tairō?), tiga pemimpin tingkat menengah
(三中老, san chūrō?), dan lima pelaksana pemerintahan
(五奉行, go bugyō?). Pada
Pertempuran Sekigahara, pengikut Hideyoshi terbelah menjadi dua, yakni penganut paham negara militer dan penganut paham negara sipil.
- Go Tairō (dewan lima menteri senior)
- Tokugawa Ieyasu kepala dewan (筆頭, hittō?), Maeda Toshiie, Mōri Terumoto, Ukita Hideie, Kobayakawa Takakage, dan Uesugi Kagekatsu (pengganti wafatnya Takakage)
- San Chūrō (tiga pemimpin tingkat menengah)
- Ikoma Chimasa, Nakamura Kazuuji, Horio Yoshiharu
- Go Bugyō (lima pelaksana pemerintahan)
- Asano Nagamasa (ketua dewan), Ishida Mitsunari, Mashita Nagamori, Natsuka Masaie, Maeda Geni.
- Tujuh Satria Shizugatake
- Fukushima Masanori, Katō Kiyomasa, Katō Yoshiakira, Wakizaka Yasuharu, Hirano Nagayasu, Kasuya Takenori, dan Katagiri Katsumoto.
- Mantan pengikut Nobunaga
- Maeda Toshiie, Tamba Nagahide, Hachisuka Masakatsu, Hori Hidemasa
- Ksatria berseragam kuning (黄母衣衆, Ōhoro shū?)
- Aoki Kazushige, Itō Nagazane, Inoue Michikatsu, Inoue Yoritsugu, Inoko Kazutoki, Oda Nobutaka, Onoki Shigekatsu, Sengoku Hidehisa, Hachisuka Iemasa, Hattori Kazutada, Hayamizu Morihisa, Maeno Tadayasu, Mikoda Masaharu, Miyoshi Fusakazu, Yamauchi Katsutoyo, dan Wakebe Mitsuyoshi.
- Penasehat militer
- Takenaka Shigeharu, Kuroda Yoshitaka
- Anak yang dibesarkan
- Konishi Yukinaga